Zero.co.id, Pamekasan – Gelombang desakan transparansi terhadap penggunaan anggaran pendidikan kembali mencuat. Sejumlah massa yang mengatasnamakan *Demokrasi dan Aspirasi Rakyat Jawa Timur (Dear Jatim)* menggelar aksi demonstrasi di kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pamekasan, Rabu (11/3/2026).
Dalam aksi tersebut, massa menyoroti proyek pengadaan buku sekolah dasar (SD) tahun anggaran 2024 yang dinilai menyisakan banyak tanda tanya. Mereka mendesak Disdikbud Pamekasan membuka secara terang benderang seluruh proses pengadaan yang menelan anggaran hingga **Rp1.481.710.000** itu.
Koordinator lapangan aksi, **Muchtar Jibril**, mengungkapkan bahwa berdasarkan data yang dihimpun pihaknya, setiap sekolah disebut menerima anggaran sekitar **Rp100 juta** untuk pengadaan buku.
Namun, menurutnya, terdapat kejanggalan dalam realisasi anggaran tersebut.
“Pagu anggarannya tahun 2024, tetapi realisasinya justru pada 2025. Dari total anggaran itu, sekitar **Rp900 juta** disebut mengalir ke **9 lembaga di Kecamatan Pegantenan**,” ungkapnya dalam orasi di depan kantor Disdikbud Pamekasan.
Tak hanya itu, sisa anggaran sekitar **Rp438.420.000** disebut dialokasikan untuk pembangunan perpustakaan sekolah. Hal inilah yang menjadi salah satu titik sorotan massa aksi.
“Kami meminta transparansi penuh. Jangan sampai ada anggaran pendidikan yang justru menyisakan kecurigaan di tengah masyarakat,” tegasnya.
Dear Jatim juga mengaku menemukan sejumlah kejanggalan di lapangan yang dinilai tidak sinkron dengan laporan realisasi program. Temuan tersebut bahkan mengarah pada dugaan penyimpangan dalam pengadaan buku dan pembangunan perpustakaan.
Menanggapi tuntutan massa, **Kasi Kelembagaan SD Disdikbud Pamekasan, Hairul Saleh**, menyatakan bahwa pengadaan buku tidak hanya dilakukan di Kecamatan Pegantenan.
Menurutnya, program tersebut juga didistribusikan ke sekolah dasar di **13 kecamatan** di Kabupaten Pamekasan.
“Anggaran yang sudah kami realisasikan per sekolah itu sekitar **Rp30 juta**. Jika ditotal sekitar **Rp450 juta**. Perlu dipahami juga bahwa anggaran yang direncanakan belum tentu seluruhnya terealisasi,” jelasnya.
Hairul menegaskan bahwa penyaluran di Kecamatan Pegantenan hanyalah sebagian dari program pengadaan buku tersebut.
Dalam aksi tersebut, Dear Jatim menyampaikan **lima tuntutan utama** kepada Disdikbud Pamekasan, yakni:
1. Meminta dilakukan **audit investigatif secara menyeluruh** terhadap proses pengadaan buku oleh lembaga auditor negara.
2. Mendesak Disdikbud membuka **seluruh data pengadaan buku secara transparan**, meliputi jenis buku, jumlah pengadaan, sekolah penerima, hingga pihak penyedia.
3. Meminta dilakukan **evaluasi total terhadap sistem pengadaan barang dan jasa** di lingkungan dinas terkait.
4. Mengusut tuntas **dugaan tindak pidana korupsi** dalam pengadaan buku dan pembangunan perpustakaan tahun 2025.
5. Menjamin keterbukaan informasi publik agar masyarakat dapat mengawasi penggunaan anggaran pendidikan.
Aksi berlangsung dengan pengawalan aparat keamanan. Pihak Disdikbud Pamekasan akhirnya menerima dan menyetujui tuntutan massa untuk ditindaklanjuti.
Penulis : Mat Juhri
Editor : Abd Ghafur






