Zero.co.id, Sumenep – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan melalui SPPG Syita Ananta di Desa Talang, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, menuai sorotan tajam dari para wali murid. Mereka menilai program yang seharusnya meningkatkan asupan gizi siswa justru jauh dari harapan.
Keluhan tersebut datang dari sejumlah orang tua siswa di MI Al Ittihad, SDN Tanamerah, dan SD Kambingan pada Senin (16/03/2026). Para wali murid mengaku kecewa karena jatah makanan yang diterima anak-anak dinilai sangat minim dan tidak mencerminkan program makanan bergizi.
Salah satu wali murid yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa dalam satu minggu siswa hanya menerima satu paket makanan yang dibagikan sekaligus, bukan setiap hari sebagaimana yang mereka harapkan.
“Program ini disebut makanan bergizi, tapi kenyataannya anak kami hanya dapat abon satu sendok dan kelengkeng empat biji untuk satu hari. Bagaimana mungkin itu disebut bergizi? Anak kami bukan diberi makanan yang layak,” ujarnya dengan nada kesal.
Menurutnya, kondisi tersebut bukan pertama kali terjadi. Para orang tua mengaku telah lama mengetahui hal itu, namun sebelumnya memilih untuk tidak mempermasalahkan.
“Hal seperti ini sudah sering terjadi dari sebelumnya. Kami masih diam dan mencoba memaklumi. Tapi sekarang kami benar-benar sudah geram,” tegasnya.
Para wali murid juga merinci isi paket makanan yang diterima siswa selama satu minggu. Di antaranya nasi senilai sekitar Rp7.000, susu Rp24.000, snack Rp3.000, kelengkeng empat buah Rp1.500, jeruk satu buah Rp1.000, pisang satu buah Rp1.000, serta tas atau kemasan MBG sekitar Rp2.500.
Jika ditotal, nilai paket tersebut diperkirakan hanya berkisar Rp40.000 per minggu. Para orang tua pun mempertanyakan transparansi pengelolaan anggaran program tersebut.
“Kalau dihitung, paling sekitar Rp40 ribu. Lalu sisanya ke mana? Masak iya dana untuk anak-anak ini tidak jelas peruntukannya,” kata wali murid lainnya.
Nada kekecewaan bahkan disertai sindiran tajam dari salah satu orang tua yang mempertanyakan penggunaan anggaran yang dinilai tidak transparan.
“Jangan-jangan sisanya dipakai beli baju Lebaran,” ucapnya dengan nada satir.
Para wali murid berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program tersebut. Mereka menegaskan bahwa program yang digagas untuk meningkatkan gizi anak sekolah seharusnya benar-benar dirasakan manfaatnya oleh siswa, bukan sekadar formalitas.
“Program ini untuk anak-anak. Kalau memang namanya makanan bergizi, ya harus benar-benar bergizi dan layak,” tegas salah satu wali murid.
Hingga berita ini diterbitkan, redaksi masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak SPPG Syita Ananta terkait berbagai keluhan yang disampaikan para wali murid.
Penulis : Imam R
Editor : Juhri






