Peran HMI dalam Meningkatkan SDM dan Kepekaan Mahasiswa Pada Isu Sosial

- Reporter

Selasa, 30 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis Adalah Indra Darmawansah, Kader HMI Cabang Sumenep Komisariat P UNIBA Madura

Penulis Adalah Indra Darmawansah, Kader HMI Cabang Sumenep Komisariat P UNIBA Madura

Zero, Opini – Mahasiswa bukan hanya sekadar individu yang duduk di bangku kuliah, tetapi juga agen perubahan yang kelak akan menentukan arah bangsa. Dalam konteks ini, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hadir sebagai organisasi yang konsisten membina mahasiswa agar tidak sekadar cerdas secara akademik, melainkan juga matang secara intelektual, moral, dan sosial. Peran HMI tidak berhenti pada pengkaderan formal, tetapi lebih jauh menyiapkan sumber daya manusia (SDM) mahasiswa agar siap menghadapi dinamika kehidupan di masyarakat.

HMI berperan penting dalam meningkatkan kualitas SDM mahasiswa melalui dua jalur utama: penguatan intelektual dan pembentukan karakter. Melalui tradisi kajian, hingga pelatihan kepemimpinan, HMI membiasakan mahasiswa berpikir kritis dan solutif terhadap persoalan bangsa. Tidak hanya itu, HMI hadir untuk melatih soft skill mahasiswa, seperti komunikasi, manajemen organisasi, hingga kemampuan advokasi. Dan hal ini jarang ditempa secara maksimal di ruang kelas.

Pada era ini tantangan mahasiswa berbeda dengan generasi sebelumnya. Arus globalisasi, perkembangan teknologi, hingga kompleksitas masalah sosial menuntut mahasiswa lebih adaptif dan progresif. Disinilah HMI hadir menjadi wadah yang mampu menjawab kebutuhan zaman. Sampai hari ini HMI dapat menjawab tantangan zaman melalui penanaman nilai moral, memperkuat daya kritis, sekaligus mendorong mahasiswa terjun langsung memberi solusi atas masalah masyarakat, mulai dari isu hukum, sosial, ekonomi, hingga lingkungan.

Melalui kaderisasinya, HMI menjawab tantangan itu dengan mencetak mahasiswa yang berani bersuara, tidak takut berbeda, dan tetap berpijak pada nilai keadilan. Hal tersebut sudah dibuktikan oleh kader-kader HMI mulai dari pendiriannya hingga saat ini bahkan ketika terjadinya rezim Suharto, HMI dapat berperan aktif membela kebenaran dan mempertahankan kemerdekaan manusia.

Di tengah maraknya pragmatisme mahasiswa HMI juga hadir sebagai pengingat, bahwa intelektual sejati harus berpihak pada kebenaran.

Dengan demikian HMI bukan hanya untuk peningkatan kualitas mahasiswa, tetapi juga untuk memastikan bahwa mahasiswa sadar akan perananya sebagai insan akademis untuk menghapus penjajahan intelektual, maka dari itu HMI adalah ruang penggemblengan yang menyiapkan mahasiswa menjadi insan yang kamil demi terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Tidak cuman paham pragmatisme yang menjarah ruang-ruang ideologis tapi sikap apatisme mahasiswa menjadi urgentsi tersendiri bagi kita bersama sebagai mahasiswa.

Ketika hukum tidak lagi berpihak pada kebenaran, pemerintah yang sibuk merenggut hak masyarakat pinggiran. Maka jangan sampai mahasiswa masih tetap tertidur lelap di bangku perkuliahan, sehingga dengan sesukanya mengeluarkan kebijakan, maka panggilan kemanusiaannya selalu menjadi yang utama bagi Kader HMI.

Demi terwujudnya mahasiswa yang proaktif menanggapi dinamika masyarakat, ruang kelas selalu menjadi ladang strategis bagi Kader HMI menyampaikan bahwa kesejahteraan masyarakat tanggung jawab penuh mahasiswa untuk menjalankan trifungsinya.

Tidak cuman itu, Kader HMI harus mampu membawa problem solving kepada pihak akademik universitas agar berjalan beriringan membentuk manset mahasiswa yang adaptif demi menjaga esensialnya, bahawa mahasiswa tonggak kemajuan suatu bangsa.

Mengutip pernyataan Fery Irwandi “bahwasanya negara itu bisa maju ketika kualitas masyarakat terus meningkat, melalui kemampuan kognitif, penalarannya dan memiliki logika yang baik”

itulah spirit perjuangan HMI tidak terlepas dari kaderisasi keilmuan. Juga tercantum dalam Glosarium dari poin tiga sampai empat bahwa seorang Kader harus memiliki bobot dan kualitas sebagai tulang punggung atau kerangka yang mampu menyangga kesatuan komunitas manusia yang lebih besar.

Jadi fokus penekanan kaderisasi adalah pada aspek kualitas. Dan seorang Kader memiliki visi dan perhatian yang serius dalam merespon dinamika sosial lingkungannya dan mampu melakukan “social engineering”

Editor : Zakiyatul Maulidiyah

Berita Terkait

Distribusi MBG di SPPG Aing Baja Raja Tak Sepenuhnya Sesuai SOP, Keluhan Wali Murid Soal Apel Mencuat
Senyum Tipis Redaksi: Ketika Kuasa Hukum Lupa Membaca di Tengah Skandal Oknum DPRD
Fenomena Curhat Berujung Perselingkuhan Marak di Sumenep, Nilai Kesetiaan Rumah Tangga Dipertanyakan
UIN Madura dan Krisis Identitas Almamater

Berita Terkait

Minggu, 11 Januari 2026 - 17:31 WIB

Distribusi MBG di SPPG Aing Baja Raja Tak Sepenuhnya Sesuai SOP, Keluhan Wali Murid Soal Apel Mencuat

Minggu, 28 Desember 2025 - 06:14 WIB

Senyum Tipis Redaksi: Ketika Kuasa Hukum Lupa Membaca di Tengah Skandal Oknum DPRD

Rabu, 17 Desember 2025 - 10:16 WIB

Fenomena Curhat Berujung Perselingkuhan Marak di Sumenep, Nilai Kesetiaan Rumah Tangga Dipertanyakan

Minggu, 5 Oktober 2025 - 18:00 WIB

UIN Madura dan Krisis Identitas Almamater

Selasa, 30 September 2025 - 16:47 WIB

Peran HMI dalam Meningkatkan SDM dan Kepekaan Mahasiswa Pada Isu Sosial

Berita Terbaru