Zero.co.id, Sumenep — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sumenep kembali menuai sorotan. Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Aing Baja Raja, Laetaus Safariah, secara terbuka mengakui bahwa pendistribusian paket MBG tidak dijalankan setiap hari sebagaimana diatur dalam Standar Operasional Prosedur (SOP).
Pengakuan itu disampaikan Laetaus saat dikonfirmasi redaksi terkait mekanisme penyaluran MBG di sejumlah lembaga pendidikan. Ia menyebut, distribusi yang seharusnya dilakukan harian justru digabung antara hari Jumat dan Sabtu dalam bentuk makanan kering.
“Dalam SOP memang disebutkan paket MBG dikirim setiap hari. Namun karena hari Jumat pesantren libur, saya berkoordinasi dengan pihak sekolah dan yayasan. Dari koordinasi itu disepakati pengiriman hari Jumat disatukan dengan hari Sabtu dalam bentuk keringan,” ujar Laetaus.
Pernyataan tersebut secara tidak langsung menegaskan adanya penyesuaian pelaksanaan di lapangan yang tidak sepenuhnya sejalan dengan SOP MBG, meskipun disebut sebagai hasil kesepakatan bersama pihak sekolah dan yayasan.
Tak berhenti di persoalan distribusi, Laetaus juga mengakui dirinya telah dihubungi dan dimintai klarifikasi oleh Badan Gizi Nasional (BGN) menyusul laporan adanya apel busuk dalam paket MBG yang diterima siswa.
“Saya sudah dimintai keterangan oleh pihak BGN dan semuanya sudah saya jelaskan,” katanya singkat.
Terkait temuan apel busuk tersebut, Laetaus mengklaim telah melakukan langkah klarifikasi internal dengan pihak yayasan pengelola. Ia bahkan meminta dilakukan pendataan jumlah buah yang tidak layak konsumsi agar dapat segera dilakukan penggantian.
“Saya sudah konfirmasi ke pihak yayasan dan meminta kepada yang bernama Nyi Faiz untuk mendata jumlah apel busuk agar bisa saya ganti. Namun hingga saat ini belum ada tindak lanjut,” ungkapnya.






