Polemik Arisan Get di Sumenep, Anggota Keluhkan Pencairan Dana Dipersulit hingga Dugaan Diskriminasi

- Reporter

Kamis, 26 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Sejumlah peserta mengeluhkan dugaan arisan fiktif serta proses pencairan dana yang dinilai tidak transparan, disertai imbauan kewaspadaan agar masyarakat tidak mudah tergiur janji keuntungan cepat.

Foto: Sejumlah peserta mengeluhkan dugaan arisan fiktif serta proses pencairan dana yang dinilai tidak transparan, disertai imbauan kewaspadaan agar masyarakat tidak mudah tergiur janji keuntungan cepat.

Zero.co.id, Sumenep – Polemik internal dalam praktik arisan get kembali mencuat di Kabupaten Sumenep. Sejumlah anggota mengeluhkan sikap pengelola arisan yang dinilai tidak transparan dan cenderung tidak adil, khususnya dalam proses pencairan dana bagi anggota yang telah memasuki giliran.

Keluhan ini mencuat setelah beberapa anggota mengaku mengalami keterlambatan pencairan dana tanpa alasan yang jelas. Padahal, mereka menyatakan tetap menjalankan kewajiban pembayaran iuran, meskipun sesekali terjadi keterlambatan dalam waktu yang relatif singkat.

Salah satu anggota mengungkapkan kekecewaannya terhadap kebijakan pengelola yang dianggap tidak proporsional. Ia menyebut, meski pernah terlambat membayar iuran hingga tiga kali, durasi keterlambatan tidak pernah melebihi lima jam dari jatuh tempo.

“Kalau memang kami telat bayar, kami siap dikenakan sanksi. Bahkan saya siap didenda Rp50 ribu setiap keterlambatan. Tapi jangan sampai hak kami untuk pencairan justru dipersulit,” ujarnya.

Menurutnya, penerapan sanksi seharusnya dilakukan secara adil dan seimbang. Ia menilai keterlambatan pembayaran tidak semestinya dijadikan alasan untuk menunda pencairan dana hingga melampaui batas waktu yang wajar.

“Kalau mau adil, pencairannya cukup diperlambat sesuai durasi keterlambatan. Tapi ini sampai lebih dari 1×24 jam. Itu jelas merugikan kami sebagai anggota,” tegasnya.

Dalam praktiknya, pembayaran iuran arisan disebut dilakukan melalui rekening atas nama admin. Namun, sebagian anggota mulai mempertanyakan transparansi pengelolaan dana serta kejelasan sistem yang diterapkan.

Pihak admin sebelumnya disebut menyampaikan bahwa keterlambatan pencairan disebabkan oleh kebiasaan anggota yang tidak disiplin dalam membayar iuran. Namun alasan tersebut justru memicu kritik dari anggota lain.

“Kalau memang ada denda keterlambatan, kami sudah patuh membayar. Jadi tidak adil kalau pencairan tetap dipersulit. Apalagi ada anggapan admin juga ikut menerima arisan tanpa kewajiban yang sama,” ungkap anggota lainnya.

Selain itu, anggota juga menyoroti sikap pengelola yang dinilai kurang terbuka terhadap kritik. Beberapa bahkan menduga adanya perlakuan subjektif terhadap anggota tertentu, terutama mereka yang aktif mempertanyakan sistem pengelolaan.

“Ada kesan kalau kita kritis, justru dipersulit. Padahal ini hak kami sebagai anggota untuk mendapat kejelasan,” imbuhnya.

Polemik ini pun memicu kekhawatiran di kalangan anggota lainnya. Mereka menilai arisan yang seharusnya berbasis kepercayaan kini mulai kehilangan kredibilitas akibat minimnya transparansi dan dugaan perlakuan diskriminatif.

Sejumlah anggota mendesak pihak pengelola untuk segera memberikan klarifikasi terbuka terkait mekanisme pencairan dana, sistem denda, serta standar operasional yang digunakan dalam menjalankan arisan.

“Arisan itu soal kepercayaan. Kalau sudah tidak transparan dan tidak adil, kepercayaan itu bisa hilang,” ujar salah satu anggota.

Kasus ini menjadi pengingat bagi masyarakat agar lebih berhati-hati dalam mengikuti arisan, khususnya yang dikelola secara non-formal. Kejelasan aturan, transparansi pengelolaan, serta komitmen terhadap keadilan menjadi faktor penting untuk menghindari potensi konflik dan kerugian di kemudian hari.

Penulis : Imam R

Editor : Andika

Berita Terkait

Indonesia Hajar Bangladesh 9-2, Garuda Melaju ke Final FIFA ASEAN Cup 2026
Empat Bulan Abaikan Kritik GEMPA, Infrastruktur UIN Madura Dibiarkan Rusak dan Tak Layak
Mulai Besok! Warga Pamekasan Kategori Ini Bisa Berobat Gratis Cukup Bawa KTP
September Hitam di Pamekasan, Ruang Publik Jadi Panggung Ingatan Mahasiswa
Duga Bekingi Tambang Ilegal, PC PMII Kecam Polres Pamekasan
Indonesia Ditahan Malaysia 0-0, Garuda Kesulitan Bermain dengan 10 Orang
Pelaku Penganiyaan Anak di Sumenep, Jaksa Tuntut 6 Bulan
Dari “Bupati Tong-Tong” ke Mandalika, Tong-Tong Sumenep Dibawa ke Panggung MotoGP

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 14:56 WIB

Indonesia Hajar Bangladesh 9-2, Garuda Melaju ke Final FIFA ASEAN Cup 2026

Kamis, 1 Oktober 2026 - 11:58 WIB

Empat Bulan Abaikan Kritik GEMPA, Infrastruktur UIN Madura Dibiarkan Rusak dan Tak Layak

Kamis, 1 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Mulai Besok! Warga Pamekasan Kategori Ini Bisa Berobat Gratis Cukup Bawa KTP

Rabu, 30 September 2026 - 10:50 WIB

September Hitam di Pamekasan, Ruang Publik Jadi Panggung Ingatan Mahasiswa

Senin, 28 September 2026 - 15:33 WIB

Indonesia Ditahan Malaysia 0-0, Garuda Kesulitan Bermain dengan 10 Orang

Berita Terbaru

foto: Pelantikan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026). Sejumlah anggota Wantimpres mengikuti prosesi pelantikan yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto.

Pemerintah

Rocky Gerung di Wantimpres, Soroti Arah Kebijakan Pemerintah

Jumat, 2 Okt 2026 - 11:57 WIB