Penulis: Kader Amatiran
SUMENEP – Lampu sorot menyala, riuh tepuk tangan menggema, senyum manis para finalis menghiasi panggung Grand Final Pemilihan Duta Pelajar PC IPPNU Sumenep.
Semua mata tertuju pada mahkota yang akan disematkan. Namun di balik kemegahan yang dibuat semarak layaknya panggung hiburan malam tahun baru, tersimpan sebuah rahasia kecil yang lucu sekaligus menggelitik: malam puncak itu hanyalah teater tanpa skor.
Bukan rahasia lagi, jika kemudian terdengar bisik-bisik di lorong belakang panggung.
Konon, seluruh proses penjurian yang katanya ilmiah, objektif, dan berbobot hanya berlangsung semasa karantina. Sementara Grand Final? Ah, itu hanya panggung pementasan tanpa bobot nilai. Para finalis boleh berorasi sehebat pidato Bung Karno, menari secantik penari istana, atau menjawab pertanyaan secemerlang profesor sekalipun semuanya sia-sia. Karena angka-angka penentu sudah tertanam rapi di ruang karantina, jauh sebelum lampu panggung dinyalakan.
Lalu, apa fungsi Grand Final dalam logika organisasi yang katanya kader? Misteri.
Spekulasi semakin menjadi-jadi ketika hingga beberapa waktu pasca penobatan, tidak ada satu pun dokumen hasil penilaian yang bisa diakses publik. Hasil akhir? Kabut.
Tidak ada papan pengumuman, tidak ada rekapitulasi nilai, tidak ada tanggung jawab moral berupa laporan terbuka. Yang ada hanyalah sebuah pengumuman: ini dia para duta terpilih. “Percayalah,” begitu kira-kira pesan tersirat panitia. “Kami tahu yang terbaik meski Anda tidak tahu bagaimana caranya.”
Di tengah suasana organisasi yang katanya kaderisasi, ironi ini menjadi semacam komedi absurd. Para finalis hanya bisa bertanya-tanya apakah mereka lomba peragaan busana atau sedang menjalani proses seleksi ala big brother versi karantina? Di mana letak nilai edukasi jika sistem penilaian berlangsung dalam ruang tertutup tanpa standar yang disepakati bersama? Di mana letak keadilan jika tidak ada ruang untuk mempertanyakan angka-angka ajaib yang melahirkan sang pemenang?
Sejumlah pengamat organisasi cilik dari warung kopi sekitar Sumenep berkomentar sinis, “Ini bukan pemilihan duta, ini permainan tebak-tebakan rasa kuis berhadiah. Siapa tahu nanti duta pelajarnya hanya jago saat karantina, tapi grogi di panggung ya sudahlah, toh tidak dinilai.”
Solusi yang ditawarkan terdengar nyaris seperti ejekan: panitia disarankan belajar ke ajang pemilihan duta lain yang lebih profesional. Studi banding, katanya. Lihat bagaimana Miss Indonesia atau Abang None Jakarta saja punya sistem penilaian yang lebih terbuka, bahkan live scoring.
Sementara ini, sistem penilaiannya lebih rahasia dari resep KFC.
Tanpa pembenahan serius, publik khawatir yang lahir bukan kader unggul, melainkan sekadar simbol bermahkota. Duta pelajar yang hanya cakap di balik tembok karantina, tapi oleng saat diuji publik. Mereka hanya “kaleng-kaleng” yang indah dipandang, kosong saat diguncang.
Kritik ini bukan bentuk pembangkangan, melainkan upaya menyelamatkan wajah organisasi dari wajah munafik, bicara transparansi tapi praktiknya ninja. Sebab, pemilihan duta pelajar bukanlah sekadar pesta kostum tahunan. Ia haruslah proses yang lahir dari rahim kejujuran, bukan dari ruang karantina yang gelap, dingin, dan tanpa saksi mata.
Kader Amatiran (Salah satu peserta pemilihan Duta Pelajar PC IPPNU Sumenep 2026)
Sumber Berita : Zero





