Banjir Sumenep Jadi Alarm Keras Kerusakan Lingkungan Akibat Tambang Ilegal Galian C

- Reporter

Kamis, 25 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Faizal, aktivis GAPADA Sumenep, menilai banjir berulang di Sumenep sebagai konsekuensi kerusakan lingkungan akibat maraknya tambang ilegal galian C.

Foto : Faizal, aktivis GAPADA Sumenep, menilai banjir berulang di Sumenep sebagai konsekuensi kerusakan lingkungan akibat maraknya tambang ilegal galian C.

Sumenep, Zero.co.id — Banjir yang kembali melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Sumenep semakin menguatkan dugaan terjadinya krisis serius dalam tata kelola lingkungan. Peristiwa ini tidak lagi relevan dipandang semata sebagai dampak cuaca ekstrem, melainkan harus dibaca sebagai indikator kegagalan pengendalian eksploitasi sumber daya alam, khususnya maraknya aktivitas tambang ilegal galian C.

Aktivis lingkungan dari GAPADA Sumenep (Gerakan Advokasi dan Pengawalan Aktivis Daerah Sumenep), Faizal, menegaskan bahwa banjir berulang merupakan konsekuensi logis dari perubahan bentang alam yang terjadi secara masif dan tidak terkendali. Menurutnya, aktivitas tambang galian C ilegal telah melemahkan fungsi ekologis wilayah, terutama dalam menjaga keseimbangan hidrologis.Kamis, 25/12/2025

“Dalam kajian lingkungan, banjir yang terjadi berulang adalah tanda menurunnya daya dukung alam. Ketika kawasan resapan air rusak, struktur tanah terdegradasi, dan sedimentasi sungai meningkat, maka air tidak lagi memiliki ruang untuk dikendalikan secara alami,” ujar Faizal.

Ia menilai pembiaran terhadap tambang ilegal galian C bukan sekadar persoalan pelanggaran hukum, melainkan mencerminkan absennya pendekatan pembangunan berbasis keberlanjutan. Secara akademik, kondisi ini menunjukkan ketimpangan serius antara orientasi ekonomi jangka pendek dan keselamatan ekologis masyarakat.

GAPADA Sumenep mencatat, keberadaan tambang ilegal di sejumlah titik strategis telah mempercepat erosi lahan, memicu pendangkalan sungai, serta merusak sistem drainase alami. Dampaknya tidak hanya dirasakan saat hujan dengan intensitas tinggi, tetapi juga meningkatkan kerentanan wilayah terhadap bencana hidrometeorologi di masa mendatang.

“Jika kerusakan di wilayah hulu terus dibiarkan, maka penanganan banjir di hilir hanya bersifat kosmetik. Normalisasi sungai tanpa penertiban tambang ilegal sama saja dengan menunda bencana berikutnya,” tegasnya.

Faizal menambahkan bahwa pendekatan teknokratis semata tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan banjir. Diperlukan langkah korektif yang menyentuh akar masalah, mulai dari audit lingkungan menyeluruh, penegakan hukum tanpa kompromi, hingga pemulihan ekosistem berbasis kajian ilmiah.

GAPADA Sumenep pun mendesak pemerintah daerah agar tidak terus bersikap reaktif, melainkan mengambil peran aktif dan tegas dalam menghentikan aktivitas tambang ilegal galian C serta memulihkan kawasan yang telah rusak. Menurutnya, keberanian dalam menata ulang kebijakan lingkungan akan menentukan apakah banjir akan terus menjadi agenda tahunan atau dapat dicegah secara sistematis.

“Banjir adalah pesan ekologis yang tidak bisa diabaikan. Ketika alam kehilangan daya dukungnya, masyarakatlah yang pertama kali menanggung risikonya,” pungkas Faizal.

Berita Terkait

Bersuara Soal Telur dan Apel Busuk, Wali Murid MBG Diduga Dapat Tekanan dari Pihak Yayasan
Distribusi MBG di SPPG Aing Baja Raja Tak Sepenuhnya Sesuai SOP, Keluhan Wali Murid Soal Apel Mencuat
Kepala SPPG Aing Baja Raja Respon Keluhan Wali Murid terkait Program MBG di TK Mambaul Hikmah dan MI Almubtadiin I
Ironi Makan Bergizi Gratis: Siswa Terima Telur dan Buah Busuk, SPPG Aing Baja Raje Juga Dilaporkan Dear Jatim ke BGN
SPPG Aing Beje Raje Tersandung Keluhan MBG, Wali Murid Temukan Telur dan Buah Busuk
Solar Subsidi Disedot Mafia, Petani dan Nelayan Sumenep Jadi Korban
Begini Roadmap Milad Ke-26 DPP FKMSB Nasional, Yuk Intip
Aduan Resmi Masuk, Bukti Siap Dibuka: BK DPRD Pamekasan Diminta Bertindak Tegas

Berita Terkait

Selasa, 13 Januari 2026 - 12:46 WIB

Bersuara Soal Telur dan Apel Busuk, Wali Murid MBG Diduga Dapat Tekanan dari Pihak Yayasan

Minggu, 11 Januari 2026 - 17:31 WIB

Distribusi MBG di SPPG Aing Baja Raja Tak Sepenuhnya Sesuai SOP, Keluhan Wali Murid Soal Apel Mencuat

Minggu, 11 Januari 2026 - 05:52 WIB

Kepala SPPG Aing Baja Raja Respon Keluhan Wali Murid terkait Program MBG di TK Mambaul Hikmah dan MI Almubtadiin I

Sabtu, 10 Januari 2026 - 18:17 WIB

Ironi Makan Bergizi Gratis: Siswa Terima Telur dan Buah Busuk, SPPG Aing Baja Raje Juga Dilaporkan Dear Jatim ke BGN

Sabtu, 10 Januari 2026 - 10:17 WIB

SPPG Aing Beje Raje Tersandung Keluhan MBG, Wali Murid Temukan Telur dan Buah Busuk

Berita Terbaru