PAMEKASAN, Zero.co.id – Di tengah gencarnya operasi pemberantasan rokok ilegal, jaringan besar justru melenggang tanpa tersentuh. H. KU, terduga pengusaha rokok ilegal yang dikenal luas dengan julukan “Sultan Madura”, diduga kuat mendapat backup dari oknum aparat negara dalam setiap proses pengiriman rokok ilegal ke luar daerah.
Ferdy Dwi Hidayat, aktivis Dear Jatim, menyebut keterlibatan aparat bukan sekadar asumsi, melainkan praktik yang sudah menjadi rahasia umum di lapangan. “Saya mendapatkan informasi valid bahwa setiap pengiriman rokok ilegal oleh jaringan H. KU selalu didahului koordinasi dengan oknum aparat. Bahkan, dalam banyak kasus, ada pendampingan agar barang tidak tersentuh razia,” ujar Ferdy, Kamis (31/7).
Dugaan keterlibatan oknum aparat ini membuat upaya pemberantasan rokok ilegal kehilangan taring. Satgas Pemberantasan Barang Kena Cukai (BKC) Ilegal bentukan Direktorat Jenderal Bea Cukai dinilai hanya menyasar pelaku kecil, sementara aktor besar seperti H. KU tetap bebas beroperasi.
“Ribuan penindakan itu jadi sia-sia jika mafia besarnya tetap aman karena diselamatkan dari belakang layar oleh oknum yang seharusnya menindak,” sindir Ferdy tajam.
Diketahui, H. KU disebut sebagai pemilik merek rokok ilegal “Hummer” yang beredar luas tanpa pita cukai. Ia juga diduga menyamarkan keuntungan dari bisnis haram tersebut melalui berbagai usaha legal seperti kedai kopi dan restoran di sejumlah kota besar di Jawa Timur.
Lebih ironis, H. KU masih kerap tampil sebagai tokoh publik yang dermawan. Aksinya menabur uang dalam pawai 1 Muharram lalu viral dan menuai kontroversi, karena dinilai sebagai simbol arogansi kekayaan yang dicurigai berasal dari kejahatan ekonomi.
Ferdy mendesak Bea Cukai dan PPATK untuk serius menelusuri aliran dana dan skema bisnis yang dijalankan H. KU. “Kalau hukum hanya berani menindak sopir dan gudang kecil, itu bukan penegakan — itu pertunjukan. Tangkap bosnya, periksa jaringan pendukungnya, dan pecat aparat yang terlibat!” tegasnya.






