Zero.co.id, Sumenep — Desakan publik agar Satgas Penegakan Hukum (Satgas PKH) turun langsung ke Kabupaten Sumenep semakin menguat. Ketua Pelaksana Satgas PKH, Febrie Ardiansyah, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus diminta segera melakukan tindakan tegas terhadap maraknya aktivitas tambang galian C ilegal, salah satunya yang diduga kuat milik H. Imam, seorang kontraktor senior sekaligus ayah dari anggota DPRD Sumenep, Eka Bhagas Nur Ardiansyah.
Praktik tambang ilegal tersebut diduga menyebabkan kerugian negara dari sektor pendapatan mineral bukan logam, kerusakan lingkungan, hingga dampak sosial bagi warga setempat.
Desakan publik juga mengarah pada aparat penegak hukum, pemerintah daerah, hingga pemerintah provinsi yang dinilai melakukan pembiaran berlapis.
“Jika di Bangka Belitung Satgas PKH bisa melakukan operasi besar-besaran, mengapa Sumenep dibiarkan? Padahal kerugian negara dari tambang ilegal di sini tidak kecil,” ujar salah satu warga
Selain menuntut penindakan terhadap H. Imam, warga juga meminta Satgas PKH memeriksa Eka Bhagas Nur Ardiansyah, anggota DPRD Sumenep yang merupakan anak dari pemilik tambang ilegal tersebut. Publik ingin memastikan apakah ada keterlibatan, pembiaran, atau penyalahgunaan pengaruh jabatan.
Informasi lapangan menyebutkan, tambang ilegal tersebut berada di dua titik, yakni:
-
Desa Kasengan, di mana dua alat berat diduga beroperasi aktif setiap hari.
-
Desa Kalebengan, yang menggunakan satu unit bego dalam aktivitas penggalian.
Aktivitas tambang tanpa izin ini disebut sudah berjalan sejak lama, bahkan menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat.
“Semua orang tahu itu tambang ilegal. Sudah sering dilaporkan, tapi tetap dibiarkan. Seolah ada yang membackup,” ujar salah satu warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Situasi ini membuat publik semakin mempertanyakan komitmen penegakan hukum di daerah.
Operasi Satgas PKH di Bangka Belitung telah menjadi bukti bahwa pemerintah pusat mampu bertindak cepat terhadap kejahatan tambang. Karena itu, masyarakat meminta hal yang sama dilakukan di Sumenep.






