PAMEKASAN, Zaro.co.id— Ada energi luar biasa yang tumpah ruah di Bundaran Monumen Arek Lancor, Pamekasan. Puncak perayaan Refleksi Hari Sumpah Pemuda ke-98 sekaligus Closing Ceremony “Pamekasan Traditional Culture” sukses dihelat dengan kemeriahan yang bikin merinding, menandai babak baru kebangkitan seni dan budaya lokal.
Malam itu, denyut nadi kota benar-benar hidup. Kolaborasi lintas elemen—mulai dari Kabid Kebudayaan Pamekasan, Ketua Dewan Kesenian Pamekasan (DKP), para budayawan, seniman lintas generasi, pelaku UMKM, hingga lautan penonton—tumpah jadi satu merayakan identitas budaya mereka.
Penutupan acara ini jauh dari kata membosankan. Pengunjung disuguhi suguhan seni berkelas tinggi yang sukses menggetarkan panggung, mulai dari tabuhan enerjik Daul Lancenk Sakera hingga harmoni syahdu dari Brikustik.
Suasana makin hype saat penyerahan trofi kepada para jawara dari berbagai kompetisi bergengsi: dari pembacaan puisi, vokal lagu daerah, hentakan magis tari Samman, hingga fashion show yang memamerkan karya-karya kreatif anak muda Pamekasan.
Di balik suksesnya acara ini, ada visi besar yang disuarakan oleh Ketua AJP, M. Khairul Umam. Ia menyampaikan rasa bangganya atas solidnya kolaborasi semua pihak, termasuk dukungan penuh dari Dinas Kebudayaan dan DKP pimpinan Arief Wibisono.
“Ini adalah ‘spirit bersama’ dan lembaran baru bagi Pamekasan. Kami optimis event seni dan budaya ini bisa menjadi agenda tahunan yang rutin digelar,” ungkap Khairul penuh semangat.
Ke depannya, ia berambisi untuk mengemas acara ini dengan skala yang lebih profesional dan merata, menjangkau seluruh penjuru masyarakat baik di wilayah Pantura maupun selatan.
Sementara itu, Ketua DKP Arief Wibisono menegaskan bahwa momentum ini adalah bentuk penghormatan tertinggi bagi para pekerja seni lokal. Ia berharap denyut kesenian di Pamekasan kian bergemuruh, namun tetap berjalan selaras dengan kearifan lokal.
“Semoga kesenian kita bisa terus dihidupkan tanpa melanggar norma-norma di Bumi Gerbang Salam, serta selalu bersinergi dengan pemerintah dan para ulama,” tegasnya.
Pamekasan Traditional Culture tahun ini telah menorehkan standar baru. Bukan sekadar perayaan, ini adalah bukti bahwa api kreativitas pemuda Pamekasan menyala lebih terang dari sebelumnya—siap menjadi tradisi baru yang paling dirindukan setiap tahunnya! (Waq)






