Zero.co.id, Sumenep — Menanggapi keluhan wali murid terkait dugaan temuan telur busuk dan buah rusak dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di TK Mambaul Hikmah dan MI Almubtadiin I, Desa Sera Barat, Kecamatan Bluto, Kepala SPPG Aing Baja Raja, Laelatus Safariyah, menyampaikan klarifikasi sekaligus hak jawab.
Laelatus menegaskan bahwa pihaknya sejak awal telah membuka ruang komunikasi dengan seluruh sekolah penerima manfaat MBG. Ia menyebut, apabila ditemukan makanan tidak layak konsumsi seperti buah busuk atau telur kurang matang, sekolah diminta seberapa melapor agar langsung dapat diganti.
“Kemarin kami sudah menyampaikan ke seluruh pihak sekolah, apabila ada buah busuk atau telur yang kurang matang, langsung lapor ke saya. Kalau ada laporan, pasti kami ganti,” ujar Laelatul.
Menurutnya, selama ini pihak SPPG hanya dapat menindaklanjuti laporan resmi yang disampaikan oleh pihak sekolah. Ia mengaku belum menerima laporan dari yayasan Mambaul Hikmah, sehingga mengira distribusi di sekolah tersebut berjalan aman.
“Kalau tidak ada konfirmasi dari pihak sekolah, kami juga tidak tahu. Di Mambaul Hikmah tidak ada laporan ke saya, makanya saya kira sudah aman,” jelasnya.
Pihaknya juga mengakui pernah menerima keluhan dari sekolah lain, khususnya dari Yayasan Assalafiah. Namun, karena pihak sekolah tersebut langsung menyampaikan laporan, SPPG segera melakukan penggantian makanan.
“Kami pernah dapat keluhan dari Yayasan Assalafiah, dan langsung kami ganti. Yang lapor ke kami waktu itu cuma dari Assalafiah,” katanya.
Ia menambahkan bahwa dirinya selalu memantau komunikasi setiap hari dan terbuka terhadap kritik maupun masukan dari masyarakat.
“Setiap hari saya cek HP, karena memang saya terbuka dan siap menerima koreksi dari masyarakat,” tegasnya.
Terkait keluhan dari TK Mambaul Hikmah dan MI Almubtadiin I, Laelatul menyebut bahwa pihak sekolah telah menghubunginya dan koordinasi sudah dilakukan.
Ia juga menjelaskan proses pengemasan makanan dilakukan melalui penyortiran, dengan melibatkan banyak pekerja, mayoritas ibu-ibu. Meski demikian, ia mengakui pengawasan satu per satu secara detail memiliki keterbatasan.
“Kami sudah sortir dengan teliti dan sudah diingatkan sebelum pengemasan, kalau ada buah busuk agar dibuang. Tapi karena pekerjaan dilakukan malam hari, kadang ada yang tidak terlihat,” ungkapnya.
Laelatus menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan evaluasi dan memperketat pengawasan agar kejadian serupa tidak terulang. Ia juga berharap sekolah tidak ragu menyampaikan laporan agar kualitas makanan bagi siswa tetap terjaga.






