Zero, HMI UMM – Di organisasi itu numpuk great legacy, bukan malah numpuk dosa.
Ada masa ketika Himpunan Mahasiswa Islam bukan sekadar nama organisasi. Ia adalah ruang tempaan watak, sekolah kepemimpinan, sekaligus dapur intelektual yang melahirkan banyak tokoh bangsa. Dari ruang-ruang kecil diskusi, lahir keberanian moral. Dari forum-forum sederhana, tumbuh tradisi berpikir dan keberpihakan terhadap umat. HMI pernah menjadi tempat orang belajar malu jika tidak membaca, belajar takut jika diam terhadap ketidakadilan, dan belajar sadar bahwa jabatan hanyalah alat pengabdian.
Namun pertanyaannya hari ini sederhana: apakah wajah itu masih tersisa di tubuh HMI Korkom UMM?
Jika jawabannya mulai kabur, maka kita sedang berhadapan dengan krisis yang lebih berbahaya daripada sekadar vakumnya kegiatan. Krisis terbesar organisasi bukanlah sepi anggota, melainkan hilangnya ruh perjuangan.
Organisasi masih hidup secara administratif, tetapi mati secara moral dan intelektual. Bendera masih berkibar, pelantikan masih berjalan, foto-foto masih diunggah, tetapi gagasan telah lama dikubur dalam-dalam.
Kondisi semacam ini jauh lebih menyedihkan dibanding organisasi yang benar-benar bubar. Sebab organisasi yang bubar masih memiliki kejujuran untuk mengakui kegagalannya. Sedangkan organisasi yang hidup tanpa arah hanya akan menjadi bangunan kosong yang dipenuhi kepentingan pribadi, konflik kecil, dan rutinitas tanpa makna.
Kita harus berani mengatakan dengan jujur: ada gejala pembusukan yang sedang berlangsung. HMI Korkom UMM perlahan kehilangan daya kritik, kehilangan tradisi intelektual, dan kehilangan keberanian moral untuk berdiri di tengah persoalan umat maupun kampus. Diskusi semakin jarang, kaderisasi terasa formalitas, dan orientasi perjuangan mulai bergeser menjadi sekadar perebutan posisi.
Padahal organisasi mahasiswa tidak dibangun untuk menjadi tempat berburu legitimasi sosial. Ia dibangun untuk mencetak manusia yang siap berpikir, siap berbeda pendapat, dan siap memperjuangkan nilai. Ketika organisasi lebih sibuk mengurus citra dibanding gagasan, maka sebenarnya ia sedang menggali kuburnya sendiri.
Yang paling menyakitkan adalah ketika senioritas hanya diwariskan dalam bentuk romantisme sejarah, bukan keteladanan sikap. Nama-nama besar masa lalu terus disebut, tetapi nilai perjuangannya tidak lagi diteruskan.
Akhirnya organisasi hanya hidup dari nostalgia. Padahal sejarah bukan untuk dipajang, melainkan untuk dilanjutkan.
Kita sering mendengar istilah great legacy. Tetapi warisan besar tidak lahir dari baliho, seremonial, atau jargon perjuangan yang diulang-ulang. Legacy lahir dari keberanian menjaga marwah organisasi. Legacy lahir dari kader yang mau membaca ketika yang lain sibuk mencari muka. Legacy lahir dari orang-orang yang rela kehilangan jabatan demi mempertahankan idealisme.
Sebaliknya, dosa organisasi mulai menumpuk ketika kepentingan pribadi dibungkus atas nama himpunan. Ketika kritik dianggap ancaman. Ketika kader kritis dijauhkan, sementara yang pandai menjilat justru dipelihara. Dalam situasi seperti itu, organisasi tidak lagi menjadi rumah perjuangan, melainkan arena transaksi kepentingan.
Lebih ironis lagi jika organisasi mahasiswa Islam kehilangan sensitivitas sosial. Kampus dipenuhi problem biaya pendidikan, keresahan akademik, krisis moral, hingga persoalan masyarakat kecil di sekitar kampus, tetapi organisasi justru tenggelam dalam urusan internal yang dangkal. Seolah-olah HMI hanya hidup untuk dirinya sendiri.
Kalau memang arah gerakan sudah tidak jelas, sikap sudah kehilangan keberanian, dan kaderisasi tidak lagi melahirkan manusia-manusia berkualitas, maka membubarkan diri terkadang lebih terhormat daripada mempertahankan nama tanpa makna. Sebab mempertahankan organisasi yang kehilangan ruh hanya akan memperpanjang kematian secara perlahan.
Tentu tulisan ini bukan ajakan membenci HMI. Justru sebaliknya, ini lahir dari rasa kecewa sekaligus cinta. Karena orang yang benar-benar peduli tidak akan diam melihat rumahnya runtuh sedikit demi sedikit. Kritik adalah bentuk kepedulian terakhir ketika nasihat sudah tidak lagi didengar.
HMI Korkom UMM masih bisa diselamatkan, tetapi syaratnya berat: harus ada keberanian melakukan evaluasi total. Bukan evaluasi formal di forum yang penuh basa-basi, melainkan evaluasi jujur tentang arah perjuangan, kualitas kaderisasi, budaya intelektual, dan moral kepemimpinan.
Organisasi ini membutuhkan kader yang berani berpikir, bukan sekadar berani tampil. Membutuhkan manusia yang tahan dikritik, bukan yang mudah tersinggung. Membutuhkan gerakan yang dekat dengan realitas umat, bukan hanya ramai di media sosial.
Sebab pada akhirnya, umur organisasi tidak ditentukan oleh banyaknya atribut yang dipakai, tetapi oleh sejauh mana ia tetap relevan bagi zaman dan tetap berpihak pada nilai-nilai perjuangan.
Kalau tidak mampu melahirkan legacy, jangan sampai malah mewariskan dosa sejarah.
Penulis : Kader, HMI UMM
Editor : Mat Juhri






