Solar Subsidi Disedot Mafia, Petani dan Nelayan Sumenep Jadi Korban

- Reporter

Kamis, 8 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Wawan, Sekretaris DPD TMI Sumenep, menyoroti dugaan praktik mafia solar subsidi yang disebut merampas hak petani dan nelayan di Kabupaten Sumenep.

Foto : Wawan, Sekretaris DPD TMI Sumenep, menyoroti dugaan praktik mafia solar subsidi yang disebut merampas hak petani dan nelayan di Kabupaten Sumenep.

Zero.co.id | Sumenep — Praktik mafia Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di Kabupaten Sumenep kembali menjadi sorotan tajam. Dugaan penyalahgunaan solar subsidi dinilai telah berlangsung lama dengan pola yang rapi, sistematis, dan terindikasi melibatkan banyak pihak.

Sorotan keras datang dari Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Tani Merdeka Indonesia (TMI) Kabupaten Sumenep. Sekretaris DPD TMI, Wawan, mengungkapkan hasil temuan lapangan yang mengindikasikan kuat adanya penyalahgunaan barcode BBM subsidi milik nelayan dan kelompok tani.

“Modusnya menggunakan dua rekomendasi. Pertama barcode nelayan, kedua barcode kelompok tani. Dari mana mafia BBM ini mendapatkannya masih menjadi tanda tanya besar. Yang jelas, praktik ini sangat merugikan petani dan nelayan,” tegas Wawan, Kamis (8/1/2026).

Menurut Wawan, salah satu ketua kelompok tani di sebuah desa mengeluhkan jatah solar kelompoknya yang tiba-tiba habis. Ironisnya, kelompok tersebut mengaku tidak pernah melakukan pembelian solar.

“Ada indikasi solar telah diambil atas nama kelompok tani untuk kebutuhan alat dan mesin pertanian (alsintan). Padahal, kelompoknya merasa tidak pernah membeli. Ini menimbulkan pertanyaan besar: siapa yang bermain di balik layar?” ungkapnya.

Berdasarkan investigasi DPD TMI, pola yang digunakan merupakan praktik klasik mafia BBM subsidi. Solar dibeli dari berbagai SPBU menggunakan barcode resmi, kemudian ditimbun di gudang-gudang tertentu sebelum dijual kembali sebagai BBM industri dengan harga jauh lebih mahal demi keuntungan besar.

Dampak dari praktik ini sangat dirasakan di lapangan. Banyak petani mengaku kesulitan mendapatkan solar untuk mengoperasikan alsintan. Akibatnya, sejumlah lahan pertanian tidak dapat diolah secara maksimal, kondisi yang ironis di tengah gencarnya program swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah pusat.

Atas temuan tersebut, DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Sumenep menyampaikan sikap tegas:

  1. Mendesak Aparat Penegak Hukum (APH), baik Polres Sumenep maupun Polda Jawa Timur, untuk mengusut tuntas praktik mafia BBM subsidi dan dugaan kongkalikong secara transparan dan tanpa pandang bulu.

  2. Menegaskan bahwa aktivitas mafia BBM telah merugikan petani dan nelayan secara langsung karena jatah solar habis, sehingga alsintan dan perahu nelayan tidak dapat dioperasikan.

  3. Meminta Pemerintah Daerah Sumenep memanggil dan memeriksa pemilik SPBU yang diduga terlibat dalam praktik penyelewengan.

  4. Mendesak Pertamina melakukan evaluasi total terhadap SPBU yang disinyalir terlibat dalam penyalahgunaan BBM subsidi.

  5. Menyatakan bahwa dugaan penyalahgunaan BBM subsidi masih banyak ditemukan di lapangan meskipun isu ini kerap diberitakan.

“Kami menduga ada oknum kuat yang membekingi praktik ini,” tegas Wawan.

Ia bahkan menyebut dugaan praktik mafia BBM nyaris terjadi di hampir seluruh SPBU di Kabupaten Sumenep, sehingga sulit dipercaya jika aparat penegak hukum tidak mengetahuinya.

Secara hukum, para pelaku dapat dijerat Pasal 55 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja, dengan ancaman pidana penjara maksimal enam tahun dan denda hingga Rp60 miliar.

Tak hanya itu, SPBU yang terbukti membantu praktik penimbunan dapat dijerat sebagai pembantu kejahatan sesuai Pasal 56 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

“Jika SPBU terbukti terlibat, itu bukan hanya merugikan negara, tetapi juga menyengsarakan rakyat kecil. Kami mendesak Pertamina untuk mencabut izin SPBU tersebut,” pungkas Wawan. ***

Penulis : Imam Rosadi

Editor : Andika EW

Berita Terkait

Dari “Bupati Tong-Tong” ke Mandalika, Tong-Tong Sumenep Dibawa ke Panggung MotoGP
Asia Award Magazine 2026, Bani Insan Peduli Sabet Dua Pernggargaan dan Optimis Untuk Selalu Tebar Manfaat
Guruh Soekarnoputra Wafat, Megawati Dalam Perjalanan dari Sulsel ke Jakarta
Guruh Sukarnoputra Meninggal Dunia di Usia 73 Tahun
Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Jadi Tersangka Kasus Dugaan Pungli PBG
CV Jawara Salurkan BLT DBHCHT Rp600 Ribu ke 537 Buruh Pabrik di Pamekasan
Laporan GMS Soal Dugaan Dana Desa Bergulir ke Sekda, Apa Langkah Pemkab ?
Hadapi Tantangan Lalu Lintas, Polresta Sumenep Tekankan Kesiapan Personel

Berita Terkait

Minggu, 27 September 2026 - 13:30 WIB

Dari “Bupati Tong-Tong” ke Mandalika, Tong-Tong Sumenep Dibawa ke Panggung MotoGP

Sabtu, 26 September 2026 - 08:52 WIB

Asia Award Magazine 2026, Bani Insan Peduli Sabet Dua Pernggargaan dan Optimis Untuk Selalu Tebar Manfaat

Sabtu, 26 September 2026 - 04:32 WIB

Guruh Soekarnoputra Wafat, Megawati Dalam Perjalanan dari Sulsel ke Jakarta

Sabtu, 26 September 2026 - 04:18 WIB

Guruh Sukarnoputra Meninggal Dunia di Usia 73 Tahun

Kamis, 24 September 2026 - 07:34 WIB

CV Jawara Salurkan BLT DBHCHT Rp600 Ribu ke 537 Buruh Pabrik di Pamekasan

Berita Terbaru

Foto: Guruh Sukarno Putra (Foto: IG Guruh Sukarno Putra).

News

Guruh Sukarnoputra Meninggal Dunia di Usia 73 Tahun

Sabtu, 26 Sep 2026 - 04:18 WIB