Aksi Penutupan Mr. Ball Tak Terwujud, Publik Soroti Penggunaan Nama Tokoh Agama

- Reporter

Selasa, 4 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ilustrasi

Foto: Ilustrasi

ZERO.CO.ID, SUMENEP – Seruan aksi yang sebelumnya digembar-gemborkan akan mengguncang Kabupaten Sumenep ternyata berakhir antiklimaks. Demonstrasi yang mengatasnamakan “Persatuan Pemuda dan Tokoh Agama” untuk mendesak penutupan Mr. Ball tidak terlihat berlangsung sebagaimana tercantum dalam surat pemberitahuan maupun poster yang telah beredar luas.

Dalam dokumen yang tersebar, aksi bahkan disebut akan diikuti sekitar 250 orang. Namun hingga waktu yang dijadwalkan berlalu, tidak tampak gelombang massa sebagaimana yang dijanjikan. Situasi di sekitar lokasi tetap berjalan normal.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai keseriusan dan kredibilitas pihak yang menginisiasi aksi. Banyak yang menilai, jangan sampai masyarakat digiring oleh narasi besar yang pada akhirnya hanya berujung pada selebaran dan unggahan media sosial.

Sejumlah warga juga menyayangkan penggunaan nama “Tokoh Agama” dalam gerakan tersebut apabila memang tidak didukung secara nyata oleh tokoh-tokoh agama yang dimaksud.

“Nama tokoh agama jangan dijadikan pelengkap poster atau alat untuk membangun kesan seolah-olah seluruh masyarakat mendukung gerakan itu. Kalau benar mewakili aspirasi umat, tentu dukungannya akan terlihat nyata di lapangan,” ujar seorang warga.

Publik kini justru menyoroti pihak koordinator aksi. Menurut sejumlah warga, seorang koordinator aksi seharusnya mampu memastikan bahwa ajakan yang disampaikan kepada masyarakat benar-benar memiliki dukungan riil, bukan sekadar menciptakan opini melalui selebaran dan media sosial.

Kegagalan terlaksananya aksi ini juga memunculkan dugaan di tengah masyarakat bahwa gaung demonstrasi lebih besar daripada kekuatan riil di lapangan. Karena itu, masyarakat berharap ke depan tidak ada lagi klaim-klaim besar yang justru berakhir menjadi bahan pertanyaan publik.

Terpisah, sejumlah warga berharap apabila memang terdapat dugaan pelanggaran hukum oleh suatu tempat usaha, penyelesaiannya dilakukan melalui jalur hukum dengan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan melalui narasi yang berpotensi memecah belah masyarakat atau membawa nama tokoh agama tanpa dukungan yang jelas.

Berita Terkait

Pemkab Sumenep Anggarkan Pembangunan Gedung APHT Rp3,2 Miliar, Dear Jatim: Tuntaskan Dulu Dugaan Korupsi KIHT
AMPD Tagih Klarifikasi Kemenag, Diamnya Pemerintah Dinilai Perpanjang Polemik Pengisian Jabatan Strategis
Oknum LC di Sumenep Berinisial S Dilaporkan ke Polisi, Diduga Cemarkan Nama Baik di Media Sosial
Pilkades Serentak 2027 di Sumenep Terapkan E-Voting, Wilayah Kepulauan Tetap Gunakan Sistem Manual
Dari Rp4,19 Miliar ke Rp2,20 Miliar: LHKPN Kapolresta Sumenep Berubah Drastis
Apresiasi Sekaligus Warning untuk Bupati Pamekasan, Formatur Dorong Tuntaskan Pengisian Kekosongan Jabatan
Parah! Lebih dari Setahun Tiang Listrik Roboh di Sumenep Belum Diperbaiki, Warga Soroti Kinerja PLN
Ratusan Alumni 99 (Compass Pamekasan) Ramaikan JJS Anniversary ’85 SPANSA

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 12:17 WIB

Aksi Penutupan Mr. Ball Tak Terwujud, Publik Soroti Penggunaan Nama Tokoh Agama

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 19:02 WIB

Pemkab Sumenep Anggarkan Pembangunan Gedung APHT Rp3,2 Miliar, Dear Jatim: Tuntaskan Dulu Dugaan Korupsi KIHT

Jumat, 31 Juli 2026 - 13:27 WIB

Oknum LC di Sumenep Berinisial S Dilaporkan ke Polisi, Diduga Cemarkan Nama Baik di Media Sosial

Jumat, 31 Juli 2026 - 12:49 WIB

Pilkades Serentak 2027 di Sumenep Terapkan E-Voting, Wilayah Kepulauan Tetap Gunakan Sistem Manual

Jumat, 31 Juli 2026 - 08:46 WIB

Dari Rp4,19 Miliar ke Rp2,20 Miliar: LHKPN Kapolresta Sumenep Berubah Drastis

Berita Terbaru