Resmi Dibubarkan, Bang Ali: Sudah tidak Ada Lagi Nama Bani Insan Peduli

- Reporter

Rabu, 15 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

PAMEKASAN — Ada keheningan yang tak biasa merayap di Ballroom Hotel Odaita, Pamekasan, pada Selasa malam (14/7). Di hadapan ratusan pasang mata Relawan BANI Insan Peduli (BIP) se-Madura yang hadir, sang pendiri, H. Ali Zainal Abidin—atau yang karib disapa Bang Ali—berdiri menyampaikan untaian kalimat yang kelak disadari sebagai sebuah warisan spiritual yang teramat dalam.

Malam itu adalah malam silaturahmi. Namun, tak banyak yang menyadari bahwa tiga ayat suci Al-Qur’an yang dilantunkan Bang Ali malam itu adalah sebuah isyarat perpisahan. Hanya berselang sehari, pada Rabu (15/7), Yayasan BANI Insan Peduli resmi dibubarkan. Tiga ayat tersebut seketika menjelma menjadi amanat terakhir yang ditinggalkan untuk seluruh jiwa yang pernah bergerak di bawah panji kemanusiaan ini.

Deklarasi Persatuan di Tengah Badai

Mengawali sambutannya, di tengah gemuruh dinamika yang melanda, Bang Ali membacakan firman Allah SWT:

“Wa’tasimū bi ḥablillāhi jamī’an wa lā tafarraqū.”
Artinya: “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Bagi Bang Ali, ayat ini bukan sekadar pemanis retorika. Ia adalah jangkar. Ujian sebesar apa pun yang mendera organisasi tidak boleh meretakkan ukhuwah yang telah lama dirajut. Di podium itu, ia menegaskan bahwa sebuah gerakan sosial hanya akan memiliki ruh jika dibangun di atas fondasi keikhlasan, kebersamaan, dan ketundukan mutlak pada rida Allah SWT.

Misi Kemanusiaan yang Melampaui Institusi
Langkah perjuangan tidak boleh terhenti hanya karena sebuah wadah formal terguncang. Menatap lekat wajah para relawan setianya, Bang Ali kemudian menyambung dengan ayat kedua:

“Wal takum minkum ummatuy yad’ūna ilal-khairi wa ya’murūna bil-ma’rūfi wa yan-hauna ‘anil-mungkar, wa ulā’ika humul-mufliḥūn.”

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 104)

Pesan di balik ayat ini begitu benderang: kemanusiaan tidak mengenal kata pensiun. Selama jerit dhuafa masih terdengar dan senyum anak yatim masih harus dijaga, maka panggilan untuk menjadi penyeru kebaikan harus tetap berdegup di dada setiap relawan—dengan atau tanpa nama yayasan.

Titik Balik: Memilih Jalan Senyap (Sirran)

Namun, takdir memiliki jalannya sendiri.
Melalui keputusan besar yang diambil melalui musyawarah panjang dan matang bersama jajaran pengurus pusat, hari Rabu (15/7) menjadi lembar akhir bagi legalitas formal yayasan ini. BANI Insan Peduli resmi dibubarkan.

“Sudah tidak ada lagi nama Bani Insan Peduli. Biarlah cukup nama Bani Insan Peduli terukir di hati para dhuafa, anak yatim, dan semua yang pernah merasakan manfaatnya,” ucap Bang Ali dengan nada tenang namun sarat ketegaran.
Sebagai penutup dari seluruh babak perjalanan ini, ia melantunkan ayat ketiga yang menjadi penunjuk arah baru bagi langkah para relawan ke depan:

“Allażīna yunfiqūna amwālahum bil-laili wan-nahāri sirraw wa ‘alāniyah, falahum ajruhum ‘inda rabbihim, wa lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanūn.”

Artinya: “Orang-orang yang menginfakkan hartanya pada malam dan siang hari, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 274)

Selama hampir tiga tahun lamanya, BANI Insan Peduli telah bergerak secara ‘alāniyah (terang-terangan) lewat ambulans gratis, santunan, dan berbagai aksi sosial yang masif. Kini, ketika gerbang institusi itu ditutup, Bang Ali menuntun para relawannya untuk menempuh jalan sirran (sembunyi-sembunyi). Sebuah jalan sunyi, di mana kebaikan ditebar dalam senyap, murni hanya demi mengetuk pintu langit.

Akhir Sebuah Nama, Awal Pengabdian Abadi
Sejarah pada akhirnya tidak akan mengingat seberapa megah papan nama sebuah organisasi berdiri, melainkan seberapa dalam jejak manfaat yang ditinggalkan di bumi.

Yayasan BANI Insan Peduli boleh saja berakhir sebagai sebuah nama di atas kertas. Namun, api Fastabiqul Khairat yang telah terlanjur dinyalakan di hati para relawan se-Madura akan terus menyala—mengalir hening, menghidupkan asa, dan menanti catatan indah di sisi Sang Khalik.

Penulis : Heb

Editor : Red

Berita Terkait

Dari “Bupati Tong-Tong” ke Mandalika, Tong-Tong Sumenep Dibawa ke Panggung MotoGP
Asia Award Magazine 2026, Bani Insan Peduli Sabet Dua Pernggargaan dan Optimis Untuk Selalu Tebar Manfaat
Guruh Soekarnoputra Wafat, Megawati Dalam Perjalanan dari Sulsel ke Jakarta
Guruh Sukarnoputra Meninggal Dunia di Usia 73 Tahun
Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Jadi Tersangka Kasus Dugaan Pungli PBG
CV Jawara Salurkan BLT DBHCHT Rp600 Ribu ke 537 Buruh Pabrik di Pamekasan
Laporan GMS Soal Dugaan Dana Desa Bergulir ke Sekda, Apa Langkah Pemkab ?
Hadapi Tantangan Lalu Lintas, Polresta Sumenep Tekankan Kesiapan Personel

Berita Terkait

Minggu, 27 September 2026 - 13:30 WIB

Dari “Bupati Tong-Tong” ke Mandalika, Tong-Tong Sumenep Dibawa ke Panggung MotoGP

Sabtu, 26 September 2026 - 08:52 WIB

Asia Award Magazine 2026, Bani Insan Peduli Sabet Dua Pernggargaan dan Optimis Untuk Selalu Tebar Manfaat

Sabtu, 26 September 2026 - 04:32 WIB

Guruh Soekarnoputra Wafat, Megawati Dalam Perjalanan dari Sulsel ke Jakarta

Sabtu, 26 September 2026 - 04:18 WIB

Guruh Sukarnoputra Meninggal Dunia di Usia 73 Tahun

Kamis, 24 September 2026 - 07:34 WIB

CV Jawara Salurkan BLT DBHCHT Rp600 Ribu ke 537 Buruh Pabrik di Pamekasan

Berita Terbaru

Foto: Guruh Sukarno Putra (Foto: IG Guruh Sukarno Putra).

News

Guruh Sukarnoputra Meninggal Dunia di Usia 73 Tahun

Sabtu, 26 Sep 2026 - 04:18 WIB