Algoritma dan Polarisasi: Ketika Kecerdasan Buatan Mengambil Alih Nalar

- Reporter

Jumat, 31 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Noris soleh Mahasiswa Pascasarjana IAI AL-KHAIRAT Pamekasan

Oleh: Noris soleh Mahasiswa Pascasarjana IAI AL-KHAIRAT Pamekasan

ZERO, CO, ID – Kemajuan kecerdasan buatan (AI) telah secara signifikan mengubah cara orang memperoleh informasi dan merumuskan opini. Saat ini, media sosial dan platform digital didukung oleh algoritma yang tidak hanya menampilkan informasi tetapi juga memutuskan apa yang layak dilihat, dibaca, dan dipercaya. Hal ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah manusia masih mampu melakukan kognisi independen, atau apakah mereka telah berevolusi menjadi objek di bawah arahan sistem komputasi? Seiring dengan meningkatnya polarisasi sosial di semua tingkatan masyarakat, subjek ini menjadi semakin relevan.

Menurut Islam, kualitas utama yang membedakan manusia dari hewan lain adalah akal (‘aql). Selain memahami realitas, akal memberikan pembenaran etis untuk benar dan salah. Kemungkinan pembatasan penalaran menjadi kekhawatiran serius ketika algoritma mulai “menggantikan” proses kognitif dengan menampilkan informasi berdasarkan preferensi pengguna. Orang-orang tidak lagi dilihat dari berbagai sudut pandang; sebaliknya, mereka terperangkap dalam ruang gema yang hanya berfungsi untuk mengkonfirmasi prasangka mereka.

Dalam skenario ini, bidang pendidikan menghadapi hambatan yang sangat besar. Di satu sisi, teknologi berbasis AI dapat memfasilitasi pembelajaran yang lebih efektif dan mempercepat akses informasi. Namun, terlalu bergantung pada algoritma berisiko melemahkan kemampuan berpikir kritis siswa. Karena informasi telah “dipilih” oleh mekanisme yang tidak memihak, mereka sering menerimanya tanpa penyelidikan lebih lanjut. Namun pada kenyataannya, algoritma dipengaruhi oleh agenda tertentu dan tidak sepenuhnya objektif. Hal ini sejalan dengan kritik Eli Pariser terhadap fenomena gelembung filter, yang terjadi ketika orang hanya terpapar informasi yang mengkonfirmasi prasangka mereka.

Keutamaan adab dan pencarian kebenaran terkait erat dengan pemikiran kritis dalam pendidikan Islam. Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, pengetahuan harus membawa orang kepada kebenaran seutuhnya, bukan hanya sebagian kecilnya. Pencarian kebenaran menjadi menyimpang ketika algoritma membatasi akses terhadap integritas informasi. Alih-alih belajar memahami keragaman, siswa malah terjebak dalam penyebaran pandangan yang bias.

Polarisasi sosial telah meningkat sebagai akibat dari pengaruh algoritma. Perbedaan pendapat, yang seharusnya menjadi sumber kemakmuran, kini menjadi penyebab perselisihan. Berita yang tidak sehat, penghinaan, dan bahkan kebencian berlimpah di media sosial. Karena menarik lebih banyak pengguna, algoritma yang dimaksudkan untuk meningkatkan keterlibatan justru cenderung mendorong konten yang kontroversial dan sarat emosi. Menurut interpretasi Shoshana Zuboff, fenomena ini merupakan komponen dari “kapitalisme pengawasan,” di mana ekonomi digital memanfaatkan perilaku manusia.

Selain itu, kohesi sosial dapat terancam oleh polarisasi yang diperkuat oleh algoritma. Kemampuan untuk melakukan percakapan yang konstruktif hilang karena masyarakat terpecah menjadi faksi-faksi yang saling eksklusif. Perbedaan (ikhtilaf) dalam Islam harus digunakan untuk memajukan pengetahuan daripada untuk memisahkan satu sama lain. Namun, perbedaan dapat menjadi perpecahan yang mengancam persatuan jika cita-cita tidak dikendalikan.

Namun, Menolak kecerdasan buatan bukanlah ide yang baik. Teknologi itu sendiri bukanlah masalah utama; melainkan bagaimana orang menggunakannya. Neil Postman mengajarkan kita bahwa nilai-nilai kemanusiaan harus terus mengatur teknologi. Jika tidak, orang berisiko kehilangan rasa otonomi dan nalar mereka.

Oleh karena itu, mengembangkan kesadaran kritis saat menggunakan teknologi adalah solusi yang diperlukan. Siswa perlu diajarkan keterampilan literasi digital yang tidak hanya teknis tetapi juga etis dan analitis. Siswa harus diajarkan untuk menerima sudut pandang yang berbeda, memahami bias algoritmik, dan memvalidasi informasi.

Selain itu, komunitas dan keluarga memainkan peran penting dalam mengembangkan persona online yang positifInteraksi di ranah digital harus didasarkan pada prinsip-prinsip Islam seperti kebijaksanaan (ḥikmah), pertanggungjawaban (amanah), dan kejujuran (ṣidq). Dalam hal ini, teknologi akan meningkatkan kebersamaan daripada menjadi alat untuk perpecahan.

Kemampuan manusia untuk berpikir sendiri pada akhirnya merupakan hambatan terbesar di era algoritma, bukan kompleksitas teknologi itu sendiri. Kecerdasan buatan dapat menjadi sekutu yang berguna dalam peradaban jika manusia mampu mencapai keseimbangan antara akal, moralitas, dan teknologi. Namun jika tidak, kekhawatiran bahwa algoritma telah menggantikan akal manusia adalah fakta, bukan sekadar retorika.

Penulis : Noris soleh Mahasiswa Pascasarjana IAI AL-KHAIRAT Pamekasan

Editor : Mat Juhri

Berita Terkait

Krisis Moral Generasi Muda dan Tantangan Dunia Pendidikan
Mispersepsi Masyarakat terhadap Pendidikan dan Finansial
Mahasantri Menolak Normalisasi Boti: Menerima Perbedaan, Bukan Penyimpangan
Dari Pada HMI Korkom UMM Mati Pelan-Pelan dalam Sikap dan Gerakan, Lebih Baik Dibubarkan Sekalian
Melemahnya Rupiah, Cermin Rapuhnya Ketahanan Ekonomi Indonesia
Budaya: Menyatukan Manusia atau Membatasi Cara Berpikir?
BGN Diguncang Anggaran Fantastis: Alarm Bahaya Tata Kelola Negara
Regulasi Sudah Jelas, Saatnya Pelaksana MBG Berbenah

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 13:01 WIB

Algoritma dan Polarisasi: Ketika Kecerdasan Buatan Mengambil Alih Nalar

Selasa, 28 Juli 2026 - 20:57 WIB

Krisis Moral Generasi Muda dan Tantangan Dunia Pendidikan

Senin, 13 Juli 2026 - 08:21 WIB

Mispersepsi Masyarakat terhadap Pendidikan dan Finansial

Minggu, 12 Juli 2026 - 12:51 WIB

Mahasantri Menolak Normalisasi Boti: Menerima Perbedaan, Bukan Penyimpangan

Senin, 18 Mei 2026 - 17:19 WIB

Dari Pada HMI Korkom UMM Mati Pelan-Pelan dalam Sikap dan Gerakan, Lebih Baik Dibubarkan Sekalian

Berita Terbaru