ZERO, CO, ID – Kehidupan masyarakat telah berubah secara signifikan sebagai akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kaum muda saat ini memiliki lebih banyak kesempatan untuk mempelajari apa pun yang mereka pilih karena media sosial dan akses mudah internet terhadap informasi. Namun di balik kemajuan ini, muncul masalah yang mengkhawatirkan: kemerosotan karakter moral generasi muda. Perundungan, kekerasan antar siswa, kecanduan narkoba, ujaran kebencian di media sosial, dan kurangnya rasa hormat kepada orang tua dan guru adalah contoh bagaimana pendidikan telah gagal dalam membentuk kepribadian siswa.
Krisis moral adalah masalah sosial yang perlu ditangani secara kolektif, bukan hanya secara individual. Keberhasilan akademis seringkali diprioritaskan di atas pengembangan karakter dalam pendidikan. Siswa mendapatkan nilai bagus sebagai hasilnya, tetapi mereka mungkin kurang integritas, kepekaan, akuntabilitas, dan pemahaman terhadap orang lain. Namun, sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi siswa agar menjadi manusia yang kompeten, kreatif, mandiri, beriman, religius, dan berkarakter mulia.
Perspektif ini konsisten dengan pernyataan Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan adalah proses pengembangan karakter serta transfer pengetahuan. Dengan motto “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani,” Ki Hajar Dewantara menampilkan pendidik sebagai panutan moral yang dapat membantu siswa berkembang menjadi manusia yang bermoral luhur. Terlepas dari kesulitan pendidikan abad ke-21, yang mengharuskan adanya keseimbangan antara pemahaman moral dan intelektual, konsep ini masih relevan.
Gagasan ini tercermin oleh Thomas Lickona, yang menyatakan bahwa pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral adalah tiga komponen utama dari karakter yang baik. Lickona (1991) menegaskan bahwa pendidikan karakter harus menciptakan kecintaan terhadap kebajikan dalam kehidupan sehari-hari siswa selain mengajarkan prinsip-prinsip moral kepada mereka. Akibatnya, pendidikan karakter perlu diimplementasikan melalui budaya sekolah, teladan guru, dan keterlibatan komunitas dan keluarga.
Masalah yang dihadapi pendidikan menjadi semakin rumit di era digital. Meskipun ada banyak keuntungan dari kemajuan teknologi, hal itu juga menciptakan peluang untuk penyebaran konten berbahaya yang mudah diakses oleh anak-anak dan remaja. Generasi muda rentan terhadap pengaruh budaya konsumerisme, individualisme, dan penyebaran hoaks jika mereka kurang memiliki keterampilan literasi digital dan standar moral. Akibatnya, sekolah harus menanamkan kemampuan berpikir kritis, etika media, dan tanggung jawab sebagai warga digital di samping keterampilan akademis.
Paulo Freire, yang menyatakan bahwa pendidikan harus mendorong kesadaran kritis (critical consciousness), mendukung pandangan ini. Freire tidak menyetujui pendidikan yang hanya mengajarkan siswa cara menghafal fakta tanpa memungkinkan mereka untuk memahami dan menganalisis realitas sosial. Kesadaran kritis sangat penting dalam lingkungan saat ini agar generasi muda dapat menyaring informasi, menghindari mudah teralihkan, dan menggunakan teknologi secara bijak.
Keluarga juga memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan anak sebagai individu. Sebelum memasuki sekolah, anak-anak awalnya diajarkan moralitas di rumah. Karakter akan tertanam kuat oleh orang tua yang menumbuhkan integritas, pengendalian diri, akuntabilitas, dan rasa hormat satu sama lain. Di sisi lain, sekolah akan lebih sulit membentuk kepribadian siswa jika pendidikan di rumah tidak memadai.
Oleh karena itu, sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah harus bekerja sama untuk mengatasi dilema moral yang dihadapi generasi muda. Pendidikan karakter perlu diperkuat di sekolah dengan menggunakan teladan guru dan pembelajaran kontekstual. Keluarga harus menjadi lingkungan yang mendukung pertumbuhan standar moral yang tinggi. Sementara itu, lingkungan sosial yang mendorong perkembangan nilai-nilai positif harus dibangun oleh masyarakat dan media.
Pada akhirnya, pengembangan generasi yang berintegritas, sadar sosial, dan bertanggung jawab secara moral merupakan indikator keberhasilan pendidikan yang lebih baik daripada nilai ujian tinggi atau prestasi akademik. Sebuah bangsa yang besar membutuhkan generasi yang bermoral tinggi di samping kecerdasan. Oleh karena itu, agar bidang pendidikan dapat memenuhi permasalahan moral pada masa kini, pengembangan karakter dalam pendidikan harus menjadi komitmen bersama.
Penulis : Noris soleh Mahasiswa Pascasarjana IAI AL-KHAIRAT Pamekasan
Editor : Mat Juhri






