Rencana Pabrik Nikel Ancam Ekosistem Laut Raja Ampat, Peneliti Lingkungan Angkat Suara

- Reporter

Selasa, 10 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nasir Fakhrudin, peneliti lingkungan Sygma Research and Consulting.

Nasir Fakhrudin, peneliti lingkungan Sygma Research and Consulting.

RAJA AMPAT – Rencana pembangunan pabrik pengolahan nikel di Raja Ampat, Papua Barat Daya, menuai sorotan tajam dari berbagai kalangan, Selasa (10/6).

Proyek yang digadang-gadang akan mendongkrak ekonomi lokal ini justru dianggap sebagai ancaman serius bagi salah satu kawasan laut paling kaya biodiversitas di dunia.

Tambang Bisa Timbulkan Kerusakan Panjang

Nasir Fakhrudin, peneliti lingkungan dari Sygma Research and Consulting, mengingatkan agar proyek tambang tak menjadi bumerang yang menghancurkan ekosistem laut dan mengorbankan masyarakat adat.

“Raja Ampat adalah pusat keanekaragaman hayati laut yang sangat penting bagi dunia. Aktivitas tambang nikel bisa menimbulkan kerusakan jangka panjang, bukan hanya polusi, tetapi juga merusak terumbu karang dan ekosistem pesisir yang menopang kehidupan masyarakat adat,” ujar Nasir.

Meski mengakui potensi ekonomi dari industri nikel, Nasir menekankan perlunya pendekatan ekstra hati-hati. Ia menyebut, tanpa transparansi dan prinsip keberlanjutan, proyek ini hanya akan meninggalkan jejak kerusakan.

“Kami paham nikel bisa menjadi peluang untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, khususnya generasi muda. Namun, prosesnya harus dilakukan dengan sangat hati-hati, transparan, dan berkelanjutan agar tidak mengorbankan lingkungan dan kehidupan adat,” tambahnya.

Pengawasan Ketat Harus Jadi Agenda Utama

Pemerintah melalui Menteri Investasi Bahlil Lahadalia telah menyatakan bahwa kawasan konservasi tetap aman dan kegiatan tambang akan diawasi secara ketat. Namun, Nasir menyebut pernyataan itu harus dibuktikan dengan aksi nyata.

“Kajian lingkungan yang independen dan partisipatif adalah kunci agar pembangunan tidak merusak alam dan tetap berkelanjutan. Raja Ampat harus menjadi contoh harmoni antara manusia dan alam, bukan korban industrialisasi,” tegasnya.

Ia kemudian menyoroti model pertambangan di Swedia sebagai rujukan. Negara tersebut, kata Nasir, sukses menyelaraskan industri ekstraktif dengan nilai-nilai ekologis dan budaya lokal.

“Kita bisa belajar dari Swedia yang telah menerapkan strategi pertambangan yang ramah lingkungan, berbudaya, dan terintegrasi dengan sektor lainnya. Indonesia perlu meniru langkah ini dengan kajian mendalam dan komprehensif agar bisa mendapatkan manfaat ekonomi tanpa harus merusak lingkungan,” jelasnya.

Penguatan Pariwisata, Fondasi Ekonomi Hijau

Sebagai jalan tengah, Nasir merekomendasikan penguatan sektor pariwisata berkelanjutan dan peningkatan kapasitas masyarakat lokal sebagai fondasi ekonomi hijau di Raja Ampat.

“Membangun Raja Ampat seharusnya mengedepankan pelestarian. Pariwisata berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat lokal harus menjadi prioritas agar ekonomi dan lingkungan dapat berjalan seiring,” pungkas Nasir.

Berita Terkait

DPRD Pamekasan Ikuti Pidato Prabowo, Pemerataan Jadi Sorotan
JJS Central 88 Siapkan Umrah dan Puluhan Hadiah Emas untuk Warga Pamekasan
Rakornas FKMSB 2026 Tekankan Kepemimpinan Progresif dan Berkarakter
Lomba Tiga Roda Jadi Ikon Perayaan HUT RI Ke-81 di Sapeken
Siapa yang Menikmati Anggaran Publikasi Rp126,2 Juta Disbudporapar Sumenep?
Aksi Humanis Anggota Satlantas Polresta Sumenep, Bantu Amankan Sayuran Korban Kecelakaan
Pick Up Pengangkut Sayur Tabrak Tiang Listrik di Jalan Trunojoyo Sumenep, Satu Korban Dilarikan ke Rumah Sakit
Verifikasi Berlapis Jadi Kunci Penyaluran Bantuan RTLH di Sumenep

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 08:45 WIB

DPRD Pamekasan Ikuti Pidato Prabowo, Pemerataan Jadi Sorotan

Rabu, 12 Agustus 2026 - 08:23 WIB

JJS Central 88 Siapkan Umrah dan Puluhan Hadiah Emas untuk Warga Pamekasan

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 07:04 WIB

Rakornas FKMSB 2026 Tekankan Kepemimpinan Progresif dan Berkarakter

Kamis, 6 Agustus 2026 - 19:03 WIB

Lomba Tiga Roda Jadi Ikon Perayaan HUT RI Ke-81 di Sapeken

Kamis, 6 Agustus 2026 - 18:54 WIB

Siapa yang Menikmati Anggaran Publikasi Rp126,2 Juta Disbudporapar Sumenep?

Berita Terbaru